Tentang negeri kabuyutan pulau Jawa

Segala kebutuhan hidup mahluk manusia dibumi ini termasuk yang menempati pulau Jawa, sejak masa purba selalu dipenuhi oleh alam. Keadaan dibumi dengan segala elemennya : tanah, air, udara, api, dengan berbagai vegetasi dan hewan, sudah kondusif untuk dihuni manusia.

Tentu saja lingkungan alam masih segar dan serba bersih. Hutan belantara dan berbagai tumbuhan pakan ada dimana-mana, sementara kelompok manusia masih sedikit sekali. Makanan, tempat tinggal, langsung didapat dari alam. Sepanjang tahun, disegala musim, tidak pernah kekurangan makanan dan selalu mendapatkan perlindungan yang cukup untuk mempertahankan diri dan melanjutkan eksistensinya.


Sawah beririgasi

Salah satu karya agung nenek moyang orang Jawa adalah penanaman padi dengan sistim irigasi, dibuat sawah yang diairi – wet rice cultivation.

Dalam perjalanan waktu, perkembangannya selalu berjalan secara alami, sesuai kebutuhan disetiap saat. Tibalah saatnya ketika manusia mulai merasa perlu untuk hidup berkelompok, mulailah terlahir habitat tetap sekelompok manusia dengan membentuk dusun-dusun kecil. Mereka menghuni dataran-dataran rendah dimana persediaan air cukup. Itu diperlukan untuk bersawah, berkebun dan memberi makan ternaknya.

Sebagai tempat perlindungan, mereka tidak lagi menempati gua-gua, tetapi mulai membangun rumah tempat tinggal yang lebih nyaman, yang terbuat dari bahan-bahan yang telah tersedia dialam, seperti bambu, kayu, daun kelapa, tanah liat, batu dll.


Papan, pangan, sandang

Keberadaan manusia didunia, sejak dulu selalu dibantu oleh alam , berupa papan yang memadai, kemudian pangan yang melimpah dan mudah didapat. Dalam perkembangannya , badan fisik juga perlu dilindungi dari hawa dingin dan ancaman alam seperti gigitan binatang, goresan duri dan mulai adanya rasa malu, manusia mulai memakai sandang.
Jadi papan, pangan dan sandang adalah kebutuhan esensial masyarakat manusia sejak zaman purba.


Mudita dan manusia

Pinisepuh Kejawen menyatakan bahwa manusia itu menempati habitatnya dijagatnya para mudita. Mudita artinya manusia pria dan wanita, mahluk paling sempurna didunia, yang keberadaannya didunia tercipta atas kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa.

Eksistensi mudita terwujud setelah jagat siap ditempatinya sebagai rumah tinggal yang nyaman dimana segala sesuatu yang diperlukan untuk menunjang kehidupannya telah terbentuk.


Oleh Tuhan , Sang Pencipta, mudita diberi kuasa untuk menamai semua hal yang ada didunia ini,
baik yang berupa benda maupun yang berupa sifat dan rasa.Muncullah kata-kata seperti : beras, air, tikar, kuda, matahari, rembulan, bintang, tanah dsb. Juga kata-kata yang berhubungan dengan rasa seperti : manis, pahit, asam, senang, susah, dekat, jauh dsb. Coba bayangkan , seandainya tidak ada mudita, maka semua kata-kata dan bahasa , tidak ada – ora kocap, bahasa Jawanya.

Sesuai perkembangan, kini jagat telah dihuni banyak mudita, ini sesuai dengan pemahaman Kejawen : Witing rame saka sepi, witing gumelar saka sonya. –Asal ramai dari sepi, jagat yang tergelar berasal dari kosong.

Mulai saat itu, boleh dibilang, para mudita adalah mahluk terpenting yang menguasai kehidupan didunia ini.


Manusia

Dalam perkembangannya, pinisepuh Jawa menamakan orang dengan “manusia”. Kata manusia itu berasal dari kata manu yang artinya malu dan swa artinya hewan. Maksudnya jelas bahwa manusia itu adalah orang yang punya rasa malu, bukannya seperti hewan yang tidak punya rasa malu.

Pemahaman sejati apa itu “manusia” adalah salah satu dasar filosofi Kejawen. Orang yang punya rasa malu, manusia, adalah orang yang punya harga diri. Kalau orang tidak punya malu, hilang sifat manusianya.


Negeri Kabuyutan

Manusia semakin berkembang, tumbuh secara alami, otaknya menjadi lebih pandai. Tatacara kehidupan mulai ditata dengan sadar secara bergotong royong supaya kehidupannya terjamin, aman dan rukun.

Sejak 10.000. tahun S.M., sistim sawah irigasi telah dilakukan para petani Jawa. Sejak mereka mengenal kelompok kehidupan didusun-dusun, mulailah dikenal pemerintahan desa. Pemimpin yang dihormati dan ditaati adalah para pinisepuh. Secara nalar, orang yang lebih tua, tentulah lebih banyak pengalamannya dan lebih bijak. Sejak dulu, sudah menjadi tradisi orang Jawa untuk menghormati pinisepuh.

Lalu dimana negeri Kabuyutan yang dipimpin Dewan Pinisepuh berada? Biasanya didirikan disuatu dataran yang subur, ada sungai mengalir, atau ditepi danau atau rawa, disitu berdiri sebuah negeri dengan sistim Kabuyutan.

Sebuah negeri Kabuyutan terdiri dari lima buah desa. Letak desa-desa tersebut disesuaikan dengan arah angin.
Pusat negeri berada didesa yang terletak ditengah empat desa lain yang mengelilinginya. Kelima buah desa yang disebut negeri Kabuyutan itu dikepalai oleh seorang Kepala Negeri yang disebut Kliwon, artinya orang bijak. Desa yang ditengah juga disebut Kliwon. Kepala Negeri dipanggil Buyut oleh warganya.

Buyut artinya kakek buyut, tentu seseorang yang sudah sepuh usianya, sudah punya anak dan cucu.Keempat desa yang lain mengitari desa Kliwon yang berada ditengah, yaitu :

Desa yang sebelah timur dinamakan Legi.
Desa yang sebelah selatan dinamakan Paing.
Desa sebelah barat dinamakan Pon.
Desa sebelah utara dinamakan Wage.


Desa-desa Legi, Paing, Pon, Wage , masing-masing dikepalai oleh seorang Kepala Desa yang disebut Lurah, oleh warganya disebut Ki, artinya kakek.

Kepala Negeri yang dinamakan Kliwon dan para Kepala Desa yang disebut Lurah, adalah para pinisepuh negeri, mereka adalah orang-orang yang dituakan artinya dihormati, dituruti segala perintah dan nasihatnya oleh seluruh warganya.


Perangkat negeri lainnya


Kliwon dan Lurah dalam menjalankan roda pemerintahan dibantu oleh pejabat-pejabat yang lain, yang penting , antara lain :

Carik, kalau sekarang Sekretaris Jendral, yang mempunyai catatan tentang peraturan dan hal-hal yang diputuskan oleh Negeri.

Mantri Ulu-Ulu,petugas yang mengurusi pengairan sawah. Ini termasuk jabatan kunci supaya para petani mendapatkan jatah pengairan sawah dengan cukup dan adil. Sehingga petani warga desa hidup rukun.

Mantri Jagabaya, petugas yang mengurusi bidang ketertiban dan keamanan.

Pada masa dulu bahaya dan gangguan bisa datang dari binatang buas atau orang-orang yang malas bekerja, tetapi mau hidup enak, lalu mereka jadi maling dan begal, perompak jalanan.Memang dari dulu didunia ini sudah ada baik dan jahat.

Dalam upacara ritual, pelaksanaannya dipercayakan kepada seorang Pandhita, yaitu orang yang mampu menguraikan maksud tujuan ritual dan menguasai tatacaranya.Dalam perkembangannya upacara ritual sering dipimpin seorang priyayi sepuh atau wong tuwo atau wiku.

Sesudah dikenal seni wayang dengan cerita lokal artinya belum dari Ramayana dan Mahabarata, dimasyarakat ada jabatan yang dinamakan Juru Udhalan, orang yang fasih menjelaskan tentang makna suatu ritual.Kata udhalan menjadi dhalan dan selanjutnya dhalang, diberi gelar Ki Dhalang, artinya orang tua yang dihormati dan dipercaya.

Pada zaman wayang mulai dipergelarkan dan menjadi populer, Ki Dhalang memimpin upacara pagelaran wayang yang melambangkan ajaran dan tuntunan hidup yang baik dan benar.


Sejak zaman dulu, sudah ada orang yang karena kegiatan nya menolong orang sakit atau orang yang lagi menderita atau butuh bantuan, disebut dhukun.Dhukun itu seorang ahli atau pawang yang memberi pertolongan dengan pengobatan fisik dan menggunakan jamu/obat ataupun dengan memakai mantra untuk mendatangkan enerji penyembuhan.

Pada dasarnya seorang dukun menggunakan keprigelannya, pengetahuannya, kepandaiannya untuk membantu orang lain dan itu didasari atas pengetahuan alamiahnya, intuisinya atau berdasarkan ajaran pinisepuh.Dalam menunaikan tugas selalu didasari berkah Gusti, Tuhan. Jadi dukun pada umumnya adalah penyalur enerji Ilahiah atau Divine Energy.

Oleh karena itu dimasyarakat dikenal adanya : Dukun bayi, yang menolong kelahiran; Dukun pijat, yang menolong orang yang keseleo atau ingin badannya merasa fit;dukun penyembuh, yang membantu menyembuhkan orang sakit, istilahnya sekarang penyembuh alternatif – alternative healer.

Ada juga dukun yang memberi nasihat kehidupan, menghilangkan gangguan mental, jiwa, yang oleh masyarakat tradisional disebut priyayi sepuh, wong tuwo atau wong pinter, yang istilahnya sekarang disebut paranormal atau psychic.
Perias temanten tradisional, selain merias dan mendandani kedua temanten pria dan wanita ,juga mengurusi seluruh seluk beluk upacara perkawinan, juga disebut dukun manten.

Jadi pada dasarnya profesi dukun itu diperlukan dan diakui, asal dipandang dari sudut pandang positif. Kalau ada dukun “ilmu hitam” yang melayani perbuatan yang tidak baik, seperti melakukan santet, mencari pesugihan –kekayaan dengan salah jalan, itu jelas menyalahi kodrat . Dan lain perkara kalau ada orang yang menyalahgunakan profesinya untuk maksud yang tidak baik.


Hari Pasaran

Letak desa-desa yang disebut : Legi, Paing, Pon , Wage, Kliwon, yang artinya ada di Timur, Selatan, Barat, Utara dan Tengah, ini disebut hari-hari pasaran.Itu juga merupakan hari lima.Ini merupakan hari kalender asli dan yang tertua ditanah Jawa. Waktu itu belum ada hari tujuh Senin sampai Ahad seperti sekarang.

Pada zaman kuno, juga sudah diperlukan tukar menukar produk yang dihasilkan, lalu kemudian ada pembelian dengan imbalan uang logam. Tempat tukar menukar atau jual beli tersebut disebut pasar. Dimasa lalu, karena relatif masih sepi, maka letak pasar digilir, lima hari sekali. Setiap hari Legi, pasar ada didesa sebelah timur, kalau hari Paing diselatan, begitu seterusnya.

Ini juga dipakai kalau ada undangan sarasehan negeri atau rapat. Kalau diadakan pada hari Kliwon artinya tempatnya juga otomatis didesa Kliwon.Jadi mudah untuk dimengerti.
 
Masdeka Internet Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template